TUBAN - Kalau mampir ke kawasan Kutorejo saat sore hari di bulan Ramadan, kita pasti langsung disambut aroma rempah yang super kuat. Bukan sembarang masakan, aroma itu berasal dari bubur Muhdhor, takjil legendaris yang resepnya sudah terjaga lebih dari satu abad.
Bayangkan, beras pilihan dimasak perlahan di dalam kuali tembaga raksasa yang usianya mungkin lebih tua dari kita semua. Campuran santan kental beradu dengan rahasia rempah khas Timur Tengah kapulaga, kayu manis, hingga cengkeh, menciptakan rasa gurih yang sulit dilupakan.
Sambil mengaduk bubur dengan kayu panjang yang butuh tenaga ekstra, salah satu pengurus masjid menuturkan filosofinya:
"Bubur ini bukan cuma soal rasa, mas. Ini soal warisan leluhur yang kami jaga supaya anak cucu tahu rasanya berbagi. Di kuali ini, semua perbedaan melebur jadi satu rasa syukur." ucap Ali.
Tepat pukul 16.30 wib keriuhan dimulai. Warga dari berbagai sudut Tuban sudah siap dengan rantang dan wadah plastiknya masing-masing. Semuanya gratis, karena hasil dari sedekah para donatur dan warga keturunan Arab di sekitar Masjid Muhdhor.
"Teksturnya lembut dengan aftertaste rempah yang hangat di tenggorokan. Sehingga saya selalu antri bubur muhdhor saat jelang berbuka puasa," ucap Agus salah satu warga Kutorejo. Sabtu (21/2/2026).
Perlu diketahui, tradisi ini sudah ada sejak zaman kolonial dan tidak pernah absen menyapa warga Tuban tiap Ramadan. Melihat bapak bapak bahu membahu mengaduk bubur di tengah cuaca panas adalah pemandangan yang menyejukkan hati.