Ironi Antara Lailatul Qadar dan Isi Toples

Ramadhan di Indonesia selalu menyimpan wajah ganda yang kontradiktif, terutama saat memasuki garis finish sepuluh malam terakhir. Di satu sisi, mimbar masjid mengelorakan keutamaan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun di sisi lain, realitas sosial menunjukkan energi kolektif kita justru tersedot habis ke pusat perbelanjaan demi baju baru dan toples ruang tamu yang terisi penuh.

​Secara etimologis, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Qadar mengandung tiga dimensi besar: ketetapan, kemuliaan, dan kesempitan. Sayangnya, fenomena hari ini menunjukkan ketiga dimensi tersebut mengalami distorsi makna yang memprihatinkan.

1. Kesempitan yang Salah Alamat

​Dalam Surah Al-Qadr, para ulama menafsirkan Qadar sebagai "sempit" karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi untuk mengamini doa manusia. Langit menjadi sesak oleh rahmat.

​Namun, di tengah masyarakat kita, "kesempitan" itu berpindah alamat:

  • ​Masjid: Mengalami fenomena "kemajuan shaf"- shaf yang semakin maju ke depan karena jamaahnya menyusut.

  • ​Pasar & Mal: Mengalami kesempitan yang luar biasa akibat antrean loket, kemacetan, dan perburuan diskon.

​Kita tampaknya lebih sibuk bersolek demi "wajah duniawi" untuk menyambut tamu lebaran, daripada mempersiapkan "wajah ruhani" untuk menyambut tamu langit.

2. Materialisme di Malam Al-Qur’an

​Dimensi kedua adalah kemuliaan, karena malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Ironisnya, kemuliaan itu kini sering direduksi menjadi sekadar ritual angka:

  • ​Menghitung berapa besaran THR yang didapat.

  • ​Membandingkan merek kue kering yang paling bergengsi.

  • ​Mengukur keberhasilan Ramadan dari kemewahan baju Lebaran.

​Inilah yang disebut sebagai "keruhanian materialistis", sebuah kondisi di mana nilai transendental malam suci kalah saing dengan potongan harga besar-besaran.

3. Perjalanan ke Dalam, Bukan ke Luar

​Esensi Lailatul Qadar adalah perjalanan transendental untuk memaknai diri. Jika dalam Surah Ar-Ra’d ayat 26 Allah menyebutkan tentang melapangkan dan mempersempit rezeki, maka Lailatul Qadar seharusnya menjadi momen bagi kita untuk "mempersempit" urusan duniawi demi "melapangkan" urusan ukhrawi.

​Kontradiksi antara iktikaf dan isi toples adalah cermin pergulatan identitas:

​"Kita sering kali lebih takut toples kosong saat tamu datang, daripada hati yang kosong saat Lailatul Qadar bertamu. Kita lebih cemas baju terlihat usang, daripada jiwa yang tetap usang meski Ramadan hampir usai."

Menata Ulang Prioritas

​Mengkritik kesibukan menjelang Lebaran bukan berarti melarang tradisi. Berbagi kegembiraan melalui hidangan lezat atau pakaian baru adalah hal baik. Namun, menjadi ironis jika hal-hal sekunder tersebut justru membunuh hal yang primer.

​Lailatul Qadar adalah undangan untuk kembali "pulang" ke dalam diri. Jangan sampai saat langit menyempit karena penuhnya malaikat pembawa rahmat, kita justru menutup pintu hati rapat-rapat karena terlalu sibuk menata ruang tamu.

​Kemuliaan Ramadan tidak terletak pada apa yang tersaji di atas meja, melainkan pada apa yang kita bawa di dalam dada.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh