TUBAN - Kabupaten Tuban sukses mencatatkan raport hijau dalam upaya penanganan stunting di awal tahun 2026. Tak tanggung-tanggung, angka prevalensi stunting di Bumi Wali kini merosot tajam hingga menyentuh level 7,38 persen, melampaui target ambisius yang sebelumnya dipatok sebesar 9,4 persen untuk Triwulan I.
Capaian gemilang ini terungkap dalam pertemuan evaluasi Program Gizi Triwulan I Tahun 2026 yang digelar di Aula Aster Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Kamis (7/5/2026). Sekretaris Dinkes P2KB Tuban, dr. Atiek Supartiningsih, menegaskan bahwa angka ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tenaga kesehatan di lapangan yang fokus memperkuat layanan gizi hingga level Puskesmas.
"Para Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) diminta segera menyesuaikan pembaruan pelaporan dan definisi operasional indikator kinerja, melakukan perbaikan data tepat waktu untuk menghindari kegagalan revisi sistem, serta mengintegrasikan data gizi dengan data Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di tingkat Puskesmas," ujar dr. Atiek di hadapan 33 perwakilan Puskesmas se-Kabupaten Tuban.
Keakuratan data menjadi kunci utama mengapa Tuban mampu bergerak cepat. Menurut Atiek, dokumentasi layanan gizi yang presisi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan fondasi vital bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan dan intervensi kesehatan di masa depan. Apalagi, indikator seperti stunting, wasting, hingga pemberian ASI eksklusif kini telah masuk ke dalam Rencana Strategis (Renstra) 2026-2030.
Selain sukses menekan stunting, data dari aplikasi SiGizi menunjukkan rapor positif pada indikator kesehatan lainnya. Angka wasting tercatat di 7,63 persen (target 9,58 persen), sementara cakupan ASI eksklusif meroket ke angka 89,86 persen dari target 80 persen. Tak berhenti di situ, pemberian Vitamin A bagi balita mencapai 94,07 persen, dan pemberian MP-ASI berkualitas pada bayi usia 6-23 bulan menembus 93,5 persen, jauh melampaui target awal yang hanya 76 persen.
Kendati hampir seluruh indikator menunjukkan tren positif, Dinkes P2KB Tuban memastikan tidak akan mengendurkan pengawasan. Program-program pendukung lainnya masih terus digulirkan untuk memastikan kesehatan anak-anak di Tuban tetap terjaga secara konsisten sepanjang tahun.
“Pemberian makanan tambahan bagi balita gizi kurang masih dalam proses pelaksanaan. Program tersebut dijadwalkan berlangsung pada Triwulan II dan III Tahun 2026,” pungkas dr. Atiek. (ain)