BOJONEGORO - Bagi sebagian orang, komputer dan teknologi mungkin hanya sarana hiburan sehari-hari. Namun, bagi Faiz Jundan Febriano Alfarizi, layar monitor dan barisan kode adalah bahasa universal untuk menembus batas-batas sunyi.
Siswa kelas XII SLB Negeri Gunungsari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro ini membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran dan wicara sama sekali bukan tembok pemisah untuk menggapai mimpi besar. Berbekal ketekunan luar biasa, remaja yang akrab disapa Jundan ini kini bersiap membawa nama harum Provinsi Jawa Timur dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Khusus (LKS DikSus) Nasional 2026 di bidang Teknologi Informasi.
Tiket ke panggung nasional tersebut dikantongi Jundan setelah ia sukses menyisihkan pesaing-pesaing tangguh dan keluar sebagai yang terbaik di tingkat Provinsi Jawa Timur. Tak hanya piawai di bidang IT, catatan prestasinya juga dihiasi keberhasilannya menyabet gelar juara lomba fotografi tingkat Kabupaten Bojonegoro tahun ini.
Kepala SLB Negeri Gunungsari Bojonegoro, Ulfa Prihantini, mengungkapkan bahwa Jundan merupakan sosok siswa yang konsisten menorehkan prestasi membanggakan di berbagai tingkatan.
"Tahun ini Jundan berhasil meraih juara lomba fotografi tingkat Kabupaten Bojonegoro. Sementara untuk bidang Teknologi Informasi, ia berhasil menjadi juara di tingkat Jawa Timur sehingga dipercaya mewakili provinsi pada LKS DikSus Tingkat Nasional 2026," ujar Ulfa, Selasa (4/8).
Menyadari ketatnya persaingan di tingkat nasional, pihak sekolah tidak tinggal diam. Pendampingan intensif langsung digulirkan bersama guru pembimbing untuk mematangkan materi dan teknik perlombaan Jundan.
"Persiapan sudah kami lakukan secara maksimal bersama guru pembimbing. Kami berharap Mas Jundan dapat mengikuti lomba dengan baik, tetap percaya diri, dan mampu menampilkan kemampuan terbaiknya," tutur Ulfa penuh optimisme. Rabu ( 5/8/2026).
Di balik deretan prestasi tersebut, perjalanan Jundan menegaskan arti penting kolaborasi antara potensi diri, dukungan keluarga, serta ekosistem sekolah yang inklusif dalam merawat mimpi anak-anak berkebutuhan khusus. Ulfa berharap, jejak langkah Jundan dapat memantik semangat baru bagi lingkungan sekitarnya.
"Kami berharap prestasi Jundan tidak hanya membanggakan sekolah dan daerah, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh siswa kami untuk terus berusaha, mengembangkan potensi, dan percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi," pungkasnya.
Kini, doa dan harapan terbaik mengalir deras dari sudut Bojonegoro paling timur. Dari balik sunyi dunianya, Jundan bersiap mengetikkan babak baru untuk membuktikan kepiawaiannya di kasta tertinggi kompetisi anak berkebutuhan khusus Indonesia. (hil/ss)