Lailatul Qadar dan Filosofi Amplop Tertutup
Kisah ini datang dari seorang kawan, seorang Kiai yang mengabdi di keteduhan sebuah desa. Sebuah cerita yang tampak bersahaja, bahkan terselip tawa, namun di dalamnya bersemayam pelajaran tajam tentang makna keikhlasan.
Syahdan, seusai sebuah pengajian, seorang jemaah mendekat dengan langkah santun. Di tangannya melingkar sebuah bingkisan kue dalam kantong plastik yang rapi.
“Ini sedikit oleh-oleh untuk dibawa pulang, Yai,” tuturnya lembut.
Sang Kiai tersenyum tulus. Dalam benaknya, mungkin isinya sekadar kudapan tradisional—entah lemper, nagasari, atau jenis kue yang tampilannya molek namun rasanya menuntut cadangan kesabaran ekstra. Namun, tepat sebelum berpamitan, si ibu membisikkan kalimat pamungkas:
“Ngapunten nggih, Yai... di dalamnya ada titipan amplop.”
Senyum Sang Kiai pun merekah sedikit lebih lebar. Bagaimanapun, manusia tetaplah manusia. Mendengar kata "amplop" setelah lelah mengisi pengajian ibarat mendengar kata "diskon" bagi ibu-ibu di pasar; ada kehangatan yang mendadak menjalar di hati.
Tetapi, kalimat berikutnya justru menjadi ujian sesungguhnya:
“Tapi mohon maaf, Yai... ampun ditingali isine (jangan dilihat isinya)...”
Antara Penasaran dan Amanah
Di sinilah seni keikhlasan itu diuji. Sesampainya di rumah, bingkisan itu diletakkan di atas meja. Keberadaan amplop itu begitu nyata. Jika diraba dengan penuh keyakinan—seperti tradisi guyonan pesantren—amplop ini terasa cukup tebal, kategori "shahih" yang menjanjikan.
Namun, amanah adalah pagar yang tinggi.
Amplop itu tetap tertutup rapat. Sang Kiai hanya memandangnya dari kejauhan. Sesekali ia pindahkan dari meja ke rak, dari rak ke laci, lalu kembali lagi ke meja. Bukan karena ingin mengintip, melainkan untuk memastikan bahwa "sesuatu yang tak boleh dilihat itu" tetap terjaga. Dalam sunyinya, batin beliau bergumam:
“Ya Allah... ini ujian yang unik. Saya sudah memiliki, namun tak boleh melihat. Padahal biasanya manusia diuji dengan sebaliknya: mampu melihat, namun tak pernah bisa memiliki.”
Cermin Sepuluh Malam Terakhir
Kisah kecil ini adalah fragmen cermin bagi kita semua, terutama saat melangkah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kita sering terjebak dalam hasrat untuk mengetahui segalanya, menghitung setiap jengkal usaha, dan memastikan hasil dari setiap amal.
Padahal, keikhlasan sering kali lahir dari kesediaan untuk tidak sibuk menghitung isi.
Ramadhan, pada puncaknya, bekerja persis seperti amplop tertutup itu:
Kita tegak dalam shalat malam, namun tak pernah benar-benar tahu apakah kita sedang memeluk Lailatul Qadar.
Kita mengulurkan sedekah, namun tak tahu tetesan mana yang dilipatgandakan.
Kita melangitkan doa, namun tak tahu kata mana yang menembus arsy.
Allah membentangkan sebuah "amplop besar" bernama Ramadhan. Di dalamnya tersimpan anugerah yang mahadahsyat. Namun, sering kali Allah sengaja menyembunyikan "isinya" agar kita belajar satu hal yang paling sukar dilatih: Ikhlas tanpa syarat.
Seorang hamba yang tulus tidak akan disibukkan oleh rasa penasaran untuk membuka amplop amalnya sendiri. Tugasnya hanya satu: Memastikan amal itu sampai ke tangan Sang Pencipta.
Akhir yang Mengejutkan
Mungkin, justru karena amplop itu tak pernah kita buka di dunia, kelak di akhirat kita akan tersungkur dalam takjub saat Allah membukakannya untuk pertama kali. Di saat itulah kita akan berbisik penuh syukur:
“Ya Allah... ternyata selama ini isinya jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan.”
Sebagaimana petuah bijak dalam kearifan Jawa:
“Sing penting ngamal, ora usah kakehan ngitung.” > (Yang penting beramal, tak perlu terlalu banyak menghitung.)
Sebab, mereka yang terlalu sibuk berhitung sering kali lupa menikmati keberkahan. Sedangkan mereka yang ikhlas, akan menerima hadiah yang tak pernah terlintas dalam duga.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.