BOJONEGORO - Proyek peningkatan jalan desa di Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menuai sorotan. Jalan aspal yang dikerjakan melalui program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) Tahun Anggaran 2025 sudah mengalami kerusakan, meski baru sekitar tiga pekan rampung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Desa Ngampal menerima BKKD 2025 yang bersumber dari APBD Kabupaten Bojonegoro senilai Rp2 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk pengaspalan jalan sepanjang 1.180 meter dengan lebar 4 meter.
Program BKKD merupakan skema bantuan keuangan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kepada pemerintah desa guna mempercepat pembangunan infrastruktur pedesaan.
Pantauan di lokasi saat pelaksanaan monitoring oleh Inspektorat, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (DPUBMPR), serta Camat Sumberrejo pada Kamis (26/2/2026), kondisi jalan tampak memprihatinkan.
Di sejumlah titik terlihat bekas tambalan. Kerusakan paling parah berada di ruas sepanjang kurang lebih 50 meter. Aspal tampak ambles dan berlubang, bahkan agregat batu di bawah lapisan aspal muncul ke permukaan.
Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena jalan itu merupakan akses vital warga untuk aktivitas harian, termasuk mobilitas pertanian dan distribusi hasil panen.
Warga Desa Ngampal, Misbah, mengaku kecewa dengan hasil pekerjaan proyek tersebut. Ia menyebut pengerjaan baru selesai sekitar tiga pekan lalu, namun kualitasnya dinilai sangat buruk.
“Baru tiga minggu yang lalu jalan aspal ini selesai dikerjakan, kalau mengerjakan malam hari, warga nggak ada yang tahu. Namun, kenyataannya kondisi jalannya sudah hancur,” terang Misbah.
Misbah juga meminta pemerintah daerah turun langsung melihat kondisi di lapangan.
“Kalau aspal seperti ini dibiarkan sangat merugikan masyarakat, desa lain bisa bagus jalannya di sini kok kayak begini, tolong pak bupati dan wakil bupati, segera memantau langsung,” ucap Misbah.
Sementara itu, Kepala Desa Ngampal, Budiyanto, mengungkapkan bahwa dari hasil monitoring tersebut direkomendasikan perbaikan total pada ruas jalan yang mengalami kerusakan.
“Untuk jalan yang rusak, sesuai arahan tim inspektorat tadi harus dilakukan pengerukan dan pembongkaran secara total, kemudian diperbaiki kembali,” ujar Budiyanto.
Ia menyebut nilai pekerjaan proyek pembangunan infrastruktur jalan tersebut sekitar Rp1,8 miliar. Dengan anggaran sebesar itu, Budiyanto menduga kerusakan dipicu kualitas bahan pondasi yang kurang baik.
“Penyebabnya karena kualitas biscos atau bahan pondasinya kurang bagus,” kata Budiyanto. Kamis (26/2/2026).
Budianto memastikan pihak pelaksana kegiatan atau kontraktor telah berkomitmen untuk segera melakukan perbaikan.
"Pihak kontraktor juga menyanggupi untuk segara melakukan perbaikan," tutupnya. (Ar)