BOJONEGORO - Adanya sliding pada tebing pelindung Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, bersama kontraktor pelaksana proyek akan tetap lakukan perbaikan sesuai ketentuan teknis serta kontrak kerja yang berlaku.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PU SDA Bojonegoro, Iwan Kristian, menjelaskan bahwa kerusakan yang muncul saat ini berada pada segmen berbeda dari titik yang sebelumnya telah dilakukan perbaikan.
Iwan menuturkan jika kondisi dilokasi dipengaruhi banyak hal, diantaranya faktor alam, dinamika tanah dan kuatnya tekanan aliran Sungai Bengawan Solo.
“Karakter tanah di sepanjang Bengawan Solo sangat dinamis. Tidak semua kerusakan bisa langsung dikaitkan dengan mutu pekerjaan. Struktur utama tetap dirancang sesuai spesifikasi teknis,” ucap Iwan kepada suarasatu.com, Senin (26/1/2026).
Kabid Iwan Kristian juga menambahkan, proyek pelindung tebing dengan nilai sekitar Rp40 miliar itu masih berada dalam masa pemeliharaan. Seluruh pekerjaan perbaikan masih menjadi tanggung jawab kontraktor.
Sementara itu, humas pelaksana proyek, Ardhyana saat dikonfirmasi suarasatu.com, menyampaikan bahwa perusahaan tetap berkomitmen melanjutkan perbaikan pada 2026.
Fokus utama diarahkan pada segmen yang mengalami kemiringan tiang pancang serta indikasi pergerakan tanah (sliding), khususnya di lokasi yang berdekatan dengan permukiman warga.
Saat ini, penanganan awal telah dilakukan berupa pembongkaran terbatas serta pengangkatan bronjong. Langkah tersebut bertujuan mengurangi beban struktur sekaligus mencegah kerusakan meluas ke bagian bangunan lainnya.
“Segmen yang miring akan kami bongkar terlebih dahulu, kemudian dilakukan pemancangan ulang. Secara teknis, metode perbaikannya relatif sama dengan area lain yang telah kami tangani pada tahun 2025,” kata Ardhyana.
Namun demikian, Ardhyana menekankan bahwa penanganan di area permukiman tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ia menilai, pembongkaran tebing saat muka air sungai masih tinggi justru berpotensi meningkatkan risiko longsor ke arah rumah warga apabila terjadi banjir.
“Oleh karena itu, pembongkaran penuh akan lebih aman dilakukan setelah periode banjir berlalu. Kami berharap kondisi sungai tahun ini mendukung percepatan perbaikan lanjutan pada 2026,” pungkas Ardhyana.
Selain itu, rekanan penyedia juga tengah menyiapkan rencana teknis lanjutan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Perbedaan karakter lokasi, terutama antara area persawahan dan kawasan permukiman, menjadi pertimbangan utama dalam penentuan metode kerja.
Untuk mobilisasi alat berat, pengiriman tiang pancang dan crane direncanakan setelah proses pengecoran jalan desa pada jalur mobilisasi rampung. Hal ini dilakukan guna menjaga keselamatan masyarakat serta kelancaran pelaksanaan proyek.
Sebagai langkah antisipatif, satu unit excavator masih disiagakan dilokasi sambil menunggu penurunan elevasi muka air sungai. Alat tersebut akan digunakan untuk pembuatan dudukan crane sekaligus mendukung penanganan lanjutan, termasuk pengangkatan bronjong pada titik yang mengalami pergerakan tanah. (sam)