Mungkin Anda pernah mendengar lagu berjudul “Purnama Merindu.” Lagu ini dirilis pada tahun 1998, sebuah era di mana saya masih mengenakan seragam putih abu-abu dan menjalani kehidupan santri yang bersahaja di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Kala itu, alunan lagu dari kaset-kaset di warung dekat pesantren atau suara samar dari radio tetangga adalah bagian dari keseharian kami.
Lagu yang dipopulerkan oleh Siti Nurhaliza dalam album Adiwarna ini terasa begitu syahdu. Jika dulu kami mendengarnya sekadar sebagai lagu cinta remaja, kini, ketika Ramadhan telah melampaui separuh jalannya, liriknya terasa jauh lebih dalam. Ia seolah bertransformasi menjadi bahasa rindu yang berbeda, rindu yang lebih hakiki.
1. Pertanyaan Tentang Makna
“Bermaknakah tiap baris kata-kata, ataukah hanya di bibir saja…”
Lirik ini terasa seperti teguran lembut bagi kita yang telah melewati lebih dari lima belas hari puasa. Ia menggugat nurani: Apakah doa-doa yang kita panjatkan benar-benar lahir dari ketulusan hati, atau sekadar rutinitas lisan yang mekanis? Apakah tadarus yang kita lantunkan, tarawih yang kita dirikan, dan sedekah yang kita berikan adalah wujud rindu kepada Allah, atau hanya sebuah "lakonan spiritual" musiman? Separuh Ramadhan adalah cermin kejujuran diri.
2. Rindu yang Tak Berubah Arah
“Rindu telah melekat dalam hatiku, walau awan lalu, rinduku tak berubah arah.”
Inilah idealisme di pertengahan Ramadhan. Rindu akan ampunan, rindu pada malam-malam yang hening, dan rindu pada sujud yang lebih panjang dari biasanya. Meski kesibukan dunia yang diibaratkan sebagai awan datang dan pergi silih berganti, arah hati seharusnya tetap konsisten menuju Allah. Rindu sejati tidak bergantung pada suasana, melainkan pada kesadaran.
3. Purnama dan Kesunyian Spiritual
“Purnama mengambang cuma berteman bintang berkelipan dan juga awan.”
Purnama di tengah langit malam adalah gambaran jiwa yang sedang benderang, namun ia tetap bersahaja dalam kesendiriannya.
Di penghujung Ramadhan sering kali menghadirkan kesunyian yang indah; saat dunia terlelap, seorang hamba justru terjaga dalam sujud. Di saat hiruk-pikuk manusia terdiam, hati justru sedang berdialog mesra dengan Tuhannya.
4. Kerinduan yang Mencengkam
“Siapa tahu rindu yang mencengkam di hatiku.”
Ada jenis kerinduan yang tidak tampak oleh mata orang lain. Di titik akhir Ramadhan ini, muncul sebuah kegelisahan yang positif: Apakah amal saya sudah cukup? Apakah dosa-dosa saya benar-benar telah luruh? Kerinduan ini bukan sekadar keinginan merayakan Idul Fitri, melainkan ketakutan jika Ramadhan pergi sebelum ampunan benar-benar kita raih.
5. Kepasrahan dan Permohonan Tulus
“Aku meminta pada yang ada, aku merindu pada yang kasih.”
Pada akhirnya, pertengahan hingga akhir Ramadhan adalah momentum untuk bersimpuh. Meminta pada Yang Maha Esa, merindu pada Yang Maha Pengasih. Fokus kita bukan lagi tentang siapa yang melihat ibadah kita, melainkan tentang kualitas hubungan personal antara seorang hamba dengan Rabb-nya.
Penutup
Separuh Ramadhan adalah fase transisi: dari semangat awal yang penuh euforia menuju kesungguhan akhir yang penuh makna. Jika di awal kita "berlari" karena semangat baru, maka di pertengahan ini kita harus "berjalan" dengan kesadaran penuh.
Seperti purnama yang setia menerangi malam, semoga rindu kita kepada Allah tidak meredup meski Ramadhan terus bergerak menuju penghujungnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.