BOJONEGORO - Kabar mengejutkan datang dari sektor energi yang siap memaksa warga Jawa Timur, khususnya para abdi negara di Bojonegoro, untuk mengubah gaya hidup secara drastis.

Berdasarkan kebijakan terbaru Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun 2026 resmi diperketat, memicu Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk segera mengambil langkah-langkah strategis demi menghindari krisis energi di akhir tahun.

​Data dari surat resmi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur Nomor 500.10.8.3/1241/124.5/2026 menunjukkan angka yang cukup bikin was-was.

Alokasi Pertalite (JBKP) untuk Jawa Timur terjun bebas dengan penurunan tajam sebesar 9,0%, dari realisasi 4.358.878 KL pada 2025 menjadi hanya 3.963.455 KL di tahun ini.

Sementara itu, nasib Solar (JBT) hanya naik tipis 0,5% ke angka 2.729.364 KL. Khusus untuk Kabupaten Bojonegoro, jatah yang tersedia kini dipatok di angka 64.983 KL untuk Solar dan 110.525 KL untuk Pertalite.

​Menghadapi kenyataan pahit ini, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, langsung tancap gas dengan instruksi yang tidak main-main.

Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Bojonegoro kini "dipaksa" turun dari kendaraan bermotor dan beralih ke pedal sepeda.

"Sesuai dengan Surat Edaran Bupati, kami mengimbau seluruh ASN untuk menggunakan sepeda saat berangkat kerja setiap hari Senin dan Jumat. Ini bukan sekadar seremoni, tapi aksi nyata untuk memastikan kuota BBM kita cukup hingga akhir tahun," tegas Wabup Nurul. Kamis. (9/4/2026).

​Kebijakan bersepeda ni bukan tanpa alasan. Dengan penurunan Pertalite yang nyaris menyentuh angka 10%, Pemkab Bojonegoro sadar betul bahwa konsumsi harus ditekan secara sistemik agar distribusi tetap tepat sasaran dan tidak terjadi kelangkaan di tengah jalan.

Langkah ini diharapkan menjadi pemicu kesadaran kolektif bagi masyarakat luas. Nurul Azizah menekankan bahwa kedisiplinan para pegawai pemerintah akan menjadi tolok ukur kesuksesan program ini.

Wabup menambahkan bahwa kedisiplinan ASN dalam menghemat energi akan menjadi barometer bagi masyarakat luas untuk ikut serta dalam gerakan efisiensi BBM.

" Kini, ASN Bojonegoro tidak hanya menjadi pelayan publik, tetapi juga menjadi ujung tombak gaya hidup ramah lingkungan demi menjaga ketahanan energi daerah." pungkas nurul Azizah. (ain)