BOJONEGORO – Memasuki hari ketujuh di bulan suci Ramadhan, kekhusyukan umat Muslim dalam menjalankan ibadah semakin mendalam. Pekan pertama yang penuh adaptasi kini bertransisi menuju fase penguatan spiritual. Di momen ini, doa menjadi jembatan utama bagi hamba untuk memohon bimbingan Sang Pencipta agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas fisik.

​Salah satu doa yang dipanjatkan pada hari ketujuh ini menitikberatkan pada permohonan kekuatan dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah. Berikut adalah petikan doa tersebut:

“Allâhumma a’innî fîhi ‘alâ shiyâmihi wa qiyâmihi wa jannibnî fîhi min hafawâtihi wa âtsâmihi warzuqnî fîhi dzikrika bidawâmihi bitaufîqika Yâ hâdiyal mudhillîn.”


Tiga Pilar Permohonan dalam Doa

​Secara mendalam, doa ini mengandung tiga poin utama yang sangat relevan bagi setiap Muslim yang sedang berpuasa:

  • Kekuatan Menjalankan Ibadah: Memohon bantuan Allah SWT agar dimampukan tidak hanya dalam berpuasa secara lahiriah, tetapi juga dalam mendirikan shalat malam (qiyamul lail).

  • Perisai dari Kesia-siaan: Meminta perlindungan agar dijauhkan dari kekhilafan dan perbuatan dosa yang dapat menghanguskan pahala puasa.

  • Keistiqomahan Berdzikir: Mengharapkan anugerah agar hati selalu terpaut dan senantiasa mengingat Allah (dawamudz dzikir) sepanjang hari.

​Doa ini ditutup dengan pengakuan yang indah terhadap sifat Allah, yakni Ya Hâdiyal Mudhillîn (Wahai Yang Menunjuki Orang Tersesat), sebagai bentuk kepasrahan bahwa tanpa taufik-Nya, manusia akan mudah goyah di tengah ujian duniawi.

​Melalui doa di hari ketujuh ini, diharapkan setiap individu dapat memperbarui niat dan semangatnya. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih bertakwa dan terjaga dari segala bentuk kesia-siaan.