BOJONEGORO – Menandai satu tahun masa kepemimpinan, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah menggelar acara refleksi di Pendopo Malowopati pada Jumat (20/2/2026).
Momentum ini digunakan sebagai ruang evaluasi mendalam terhadap capaian kinerja serta penguatan komitmen pelayanan publik yang berbasis pada integritas.
Acara yang berlangsung khidmat dengan nuansa religi tersebut tidak hanya menjadi ajang laporan birokrasi, tetapi juga simbol sinergi antara pimpinan daerah dalam membawa Bojonegoro ke arah yang lebih berprestasi.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa fokus utama pada tahun pertama masa jabatannya adalah pembenahan sistem dan penyelarasan program kerja sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Wahono mendefinisikan duet kepemimpinannya dengan Nurul Azizah sebagai kolaborasi harmonis antara sosok konseptor dan eksekutor.
Menurut Wahono, refleksi ini bertujuan untuk membangun komunikasi berjejaring yang lebih solid di lingkup pemerintahan. Ia mengajak seluruh jajaran untuk mengubah pola pikir (mindset) agar lebih saling menghargai dan mengedepankan inovasi dalam bekerja.
"Refleksi ini bukan sekadar bicara pencapaian, tetapi ruang evaluasi untuk membangun komunikasi berjejaring dan mengubah pola pikir agar lebih menghargai satu sama lain," ujar Wahono. Jum'at (20/2/2026).
Wakil Bupati Nurul Azizah turut memaparkan analisis strategis terkait dinamika APBD Bojonegoro. Ia menyajikan perbandingan kekuatan fiskal daerah dari tahun 2008 hingga 2026. Data historis ini menjadi landasan penting dalam menentukan arah kebijakan makro daerah agar anggaran tepat sasaran dan berdampak luas bagi masyarakat.

Penyerahan aset Masjid Baabus Shofa kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah penyerahan aset Masjid Baabus Shofa kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Masjid yang mulai dibangun pada tahun 1997 dan sebelumnya dikelola oleh Yayasan Mangunrekso Kusumo ini, kini resmi menjadi aset daerah untuk dikelola demi kepentingan umat secara lebih luas.
Nuansa kemanusiaan terasa kental melalui pemberian santunan kepada berbagai lapisan masyarakat. Bantuan diberikan secara simbolis kepada anak yatim dan penyandang disabilitas.
Pekerja sektor informal, termasuk penggali kubur dan tukang becak.
Selain itu, kepedulian masyarakat Bojonegoro juga merambah ke tingkat nasional. Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bojonegoro menyerahkan donasi sebesar Rp 187.019.500. Dana tersebut dihimpun dari masjid-masjid di seluruh Bojonegoro untuk membantu pemulihan masjid yang terdampak bencana banjir di wilayah Aceh dan Sumatera.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh agama, pimpinan partai politik, serta perwakilan organisasi masyarakat, yang menunjukkan dukungan kolektif terhadap arah pembangunan Bojonegoro ke depan. (red)