BOJONEGORO - Ramadhan selalu mengajak kita pulang kepada hati yang lebih jernih, kepada niat yang lebih lurus, dan kepada sejarah yang membentuk siapa diri kita hari ini.

Bagi saya yang lahir dan tumbuh di Baureno, bulan suci ini juga menghadirkan kenangan tentang jejak para pendahulu yang mewarnai tanah kelahiran kami.

Di Desa Blongsong Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro masyarakat mengenal sosok Sunan Blongsong. Dalam berbagai cerita tutur dan catatan sejarah lokal, beliau memiliki nama asli Banung Sumitro yang diyakini masih memiliki garis keturunan Kerajaan Mataram Islam.

Ketika kolonial Belanda mulai menguatkan pengaruhnya, terjadi perpecahan di tubuh Mataram. Ada yang memilih berdamai juga ada yang memilih melawan. Banung Sumitro memilih jalan yang penuh risiko: meninggalkan pusat kekuasaan, hijrah, lalu menetap di wilayah yang kini kita kenal sebagai Desa Blongsong.

Di tempat itulah beliau membangun masjid, membina masyarakat, serta menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang sabar dan penuh kearifan. Masyarakat yang kala itu masih kental dengan tradisi animisme dan dinamisme disentuh melalui dakwah yang sejuk dan meneduhkan, tanpa paksaan dan tanpa cela.

Namun sikap beliau berbeda ketika harus berhadapan dengan penjajah. Terhadap ketidakadilan, beliau memilih jalan perlawanan. Akibatnya, rumah dan masjid yang menjadi pusat perjuangan pernah dihancurkan, dan beliau pun diburu. Meski demikian, berkat dukungan masyarakat serta kecerdikannya dalam menyusun strategi, beliau selalu berhasil menghindar. Dari peristiwa itulah nama “Blongsong” diyakini bermakna sebagai tempat perlindungan.

Ramadhan mengajarkan nilai yang sama: kesabaran dan keteguhan dalam memegang prinsip. Allah SWT berfirman dalam Surat Al –Baqarah ayat 153 Yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.Ayat ini terasa begitu dekat dengan perjalanan beliau. Sabar dalam dakwah. Sabar dalam ujian. Sabar dalam perjuangan.

Sebagai bagian dari masyarakat Bojonegoro yang hari ini mendapat amanah untuk ikut mengemban tanggung jawab di legislatif, saya sering merasa bahwa kisah-kisah seperti ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pengingat. Bahwa tugas kita bukan hanya membangun fisik daerah, tetapi juga menjaga nilai.

Perjuangan memang berubah bentuk. Jika dahulu melawan penjajah, hari ini kita menghadapi tantangan kemiskinan, ketimpangan, dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Tetapi ruhnya tetap sama: keberpihakan kepada rakyat dan keberanian menjaga kebenaran.

Sebagai seorang yang lahir ditanah yang sama, saya merasa memiliki kedekatan batin dengan warisan perjuangan Sunan Blongsong. Tradisi haul dan ziarah yang terus dijaga masyarakat bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga cara kita merawat ingatan kolektif, bahwa daerah ini dibangun oleh orang-orang yang sabar dalam ibadah dan tegas dalam membela kebenaran.

Ramadhan tahun  ini semoga menjadi momentum bagi kita semua untuk menyalakan kembali semangat itu. Menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur dan lebih peduli.

Dari Baureno, kita belajar bahwa perjuangan besar bisa lahir dari desa. dari masjid sederhana. Dari keteguhan seorang ulama yang tidak menyerah pada keadaan.

Semoga kita mampu menjaga dan meneruskan nilai itu, dalam peran kita masing-masing.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh