BOJONEGORO – Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram, atau yang akrab disapa gas melon, kian meresahkan warga Bojonegoro. Ironisnya, kondisi ini mulai merambah wilayah tengah kota, memicu lonjakan harga hingga kesulitan akses bagi masyarakat kecil.
Di wilayah perkotaan, warga melaporkan harga gas melon telah menembus angka Rp30.000 per tabung. Selain mahal, stok yang menipis memaksa warga untuk "berburu" hingga ke kelurahan tetangga demi mendapatkan satu tabung gas.
Rahul Oscarra, salah satu warga Kelurahan Ledok Wetan, mengungkapkan keluhannya terkait sulitnya mendapatkan hak masyarakat prasejahtera tersebut dalam beberapa hari terakhir.
“Sekarang susah sekali cari LPG 3 kilo. Kalau pun ada, harganya sudah Rp30 ribu. Saya kemarin dapatnya harus cari ke kelurahan lain, itu pun terbatas,” ujarnya.
Kondisi yang kian mencekik ini memaksa sebagian warga memutar otak agar dapur tetap mengepul. Tradisi lama yang sudah ditinggalkan masyarakat kota, yakni memasak dengan kayu bakar, kini terpaksa kembali dilakukan.
Rahul menceritakan pengalaman keluarganya yang harus kembali ke cara tradisional akibat ketiadaan stok gas di pangkalan maupun pengecer.
“Tadi sore Bu Lik masak kikil, tapi karena gasnya tidak ada, akhirnya pakai kayu bakar. Sudah lama tidak lihat pemandangan seperti ini sejak tinggal di tengah kota,” imbuhnya.

Kelangkaan ini memicu tanda tanya besar di benak masyarakat. Pasalnya, pernyataan pemerintah pusat dinilai berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Rahul menyentil pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang sebelumnya menjamin keamanan stok energi nasional.
“Kami berharap ada penjelasan dari Pertamina Patra Niaga terkait kelangkaan ini. Soalnya, beberapa waktu lalu sempat disampaikan stok aman, tapi di lapangan justru langka,” tegas Rahul.
Meski merasa kecewa dengan sistem distribusi yang ada, Rahul mencoba melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang berbeda. Kembalinya penggunaan kayu bakar dianggapnya sebagai momen "kembali ke alam".
“Ya menyebalkan memang, tapi ada hikmahnya juga. Kami jadi kembali ke alam. Semoga saja masakan lebih sedap dan kondisi ini segera normal,” tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap pihak terkait segera melakukan operasi pasar atau sidak distribusi guna menekan harga dan memastikan ketersediaan LPG 3 kilogram kembali stabil di wilayah Bojonegoro.