BOJONEGORO - Suasana riuh penuh gelak tawa pecah di kediaman Karji, salah satu warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. Bukan sekadar hajatan warga, rupanya sebanyak 21 petani sedang berkumpul untuk "naik kelas" menjadi subjek utama dalam rantai kedaulatan pangan.
Para petani ini tengah mengikuti pelatihan Petani Pemandu Sekolah Lapangan Pertanian 2026 yang berlangsung pada 20–24 April 2026. Fokusnya jelas: mendorong kemandirian dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim yang kian tidak menentu.
Terobosan paling penting dalam kegiatan ini adalah materi pemuliaan tanaman. Tak tanggung-tanggung, para petani dibimbing langsung oleh peneliti dari BRMP Padi Subang, Dr. Nafisah, SP., MSc. Mereka fokus melakukan konservasi genetik varietas padi lokal yang diberi nama varietas Pendok.
Dr. Nafisah mengaku antusias melihat semangat para petani di lapangan. Baginya, kolaborasi ini adalah bentuk riset yang sesungguhnya.
"Saya memang ingin bekerja bersama petani. Melalui program ini, saya bisa terlibat langsung dalam proses pemuliaan padi bersama mereka," ujar Dr. Nafisah.
Saat ini, proses pemuliaan padi Pendok telah memasuki generasi keenam atau tahap F5. Hal ini menandakan karakteristik unggul dari padi tersebut sudah mulai konsisten dan seragam. Varietas ini nantinya akan menjadi tumpuan di atas lahan kelolaan seluas 23,7 hektar.
Program yang merupakan bagian dari Pengembangan Masyarakat ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan didampingi Yayasan Daun Bendera ini berusaha mengubah pola pikir lama. Petani kini tak lagi hanya dianggap sebagai pengolah tanah, melainkan sumber pengetahuan.
Perwakilan Yayasan Daun Bendera, Devi Wahyunigtyas, menyebut banyak petani yang sebenarnya memiliki ilmu tinggi namun tidak menyadarinya.
“Petani itu banyak pengalamannya, tapi sering tidak sadar kalau itu adalah ilmu yang berharga,” tegas Devi.
Hal senada diungkapkan oleh Syaiful, salah satu petani pemandu dari Desa Sudu. Ia merasa pendekatan ini sangat efektif karena memposisikan petani sebagai rekan belajar, bukan murid.
“Petani itu mau belajar, cuma caranya yang harus pas. Tugas kami sebagai pemandu adalah menggali pengalaman kami para petani, untuk dijadikan pengetahuan bersama,” kata Syaiful.
Dampak dari penguatan kapasitas ini bukan sekadar teori. Manfaat program ini telah dirasakan oleh lebih dari 600 petani di wilayah sekitar. Secara akumulatif, sinergi ini mampu menghasilkan sedikitnya 2.400 ton gabah per musim tanam.
Perwakilan dari EMCL, Ali Mahmud, berharap kemandirian ini bisa menekan ketergantungan petani terhadap pasokan benih dari luar.
"Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya mendorong petani lebih mandiri dan adaptif. Harapannya, kepercayaan diri petani sebagai sumber pengetahuan utama akan terus meningkat demi mewujudkan kedaulatan pangan di tingkat desa," pungkas Ali.
Dengan kurikulum dan petunjuk lapangan yang dirancang sendiri, para petani Bojonegoro kini bersiap menghadapi tantangan iklim dengan varietas lokal yang tangguh di rumah sendiri. (Ain)